Kehamilan Anak ke 2 Berjarak 9 Tahun

Assalamu’alaikum

@anakjempolan
Si Kakak yang selalu usap perut Umi

Alhamdulillah akhirnya kesampean juga buka blog dan pengen banget mulai menulis. Aku mau cerita tentang kehamilan keduaku. Si kakak udah 9 tahun. Kupikir udah lebih gampang nerimanya. Tapi, justru karena dia terlalu lama biasa sendiri jadi anak semata wayang, maka benih2 cemburu mulai berkembang. Puncaknya adalah di minggu (sekitar) 11-12. Si kakak sakit batuk pilek sampai demam tinggi hampir 40. Dia gak mau Uminya jauh-jauh. Maunya peluk aja terus. Bawaannya nangis aja. Akhirnya ke dokter sama Abanya (ini juga dibujuknya ampun2an). Dokternya sampe tanya juga kenapa kok dia sedih? Ya, dia takut gak disayang Umi lagi katanya. Alhamdulillah dr. Rastra bisa kasih penjelasan dan nenangin si kakak.

Terus sakitnya si kakak apa? Nah, setelah dipeluk, besoknya Umi yang demam dan batuk pilek juga. Ternyata si kakak ketularan temennya yang batuk di depannya sehari sebelum dia mulai batuk. Karena lagi hamil jadi tanya obgyn dulu minum obat apa. Akhirnya minum parasetamol, panggil tukang urut, tetep aja sakitnya begitu dan demam gak turun2. Sama kayak si kakak.

Diputuskan ke RS dan minta rawat inap aja. Karena inget waktu hamil pertama demam juga, jadi detak jantung janinnya cepat sekali. Cek darah ternyata trombosit rendah, si kakak juga sama (cuma kakak di rumah aja). Aku sampai sesak napas karena ada riwayat asma. Bersyukur kejadian ini sebelum pandemi, jadi gak terlalu tegang. Dokterku sampe gak yakin sama diagnosanya, apakah DB atau bukan. Kalau dokternya si kakak sih mastiin ini bukan DB tapi virus.

Sesak napasnya gak berkurang udah minum segala macem obat batuk, sampai akhir di nebu, berkurang sedikit. Akhirnya obat nebunya diganti barulah agak lega dan minta segera pulang karena trombosit juga mulai naik. Eh, ternyata ibu yang pijet aku kena juga, Mamaku yang jaga si kakak di rumah kena juga. Tapi mungkin karena gak ada asma jadi kayak batpil biasa aja.

Setelah pulang dari RS. Aku tetap bedrest karena selalu kram kalau banyak aktivitas. Sampai kehamilan 6-7 bulan kami pindah rumah. Si kakak berhenti sekolah dan lanjut Homeschooling (mudah2an bisa post tentang HS kakak nanti). Dan hari ke 2 di rumah baru dimulailah kasus Covid 19 pertama di Depok. Jadi kami sepenuhnya stay at home kecuali periksa kandungan (itu pun sudah di bulan ke 8).

@anakjempolan

Bayiku ternyata terlilit tali pusat. Jadi ada kemungkinan harus sesar. Tapi masih ada kemungkinan bisa normal. Dan di minggu 37-38 aku test swab. Hasil swab itu hanya berlaku 1 minggu, jika aku belum melahirkan berarti harus swab ulang. Eeh ternyata si adek lahir sebelum hasil swabnya keluar. Jadi di ruang bersalin aku di tes rapid lagi. Aku baru pembukaan 1 tapi kontraksinya udah sering banget. Jadi detak jantung si adek sempet gak terdeteksi. Suasana tegang tengah malam itu sampai akhirnya dokter putuskan untuk sesar pagi2.

Setelah lahiran, obgynku dr Afra bilang kalau lilitannya ternyata 2x dan turun di kaki (waktu USG di leher, dan USG lagi sempat gak kelihatan). Sempet nyesel kenapa gak memutuskan sesar aja langsung, tapi kata suamiku, gak boleh nyesel justru Allah nilai itu pahala kamu berjuang. Oh iya, betul juga ya, jadi tenang deh.

Jadi, melahirkan sesar ataupun normal itu sejatinya bukan pilihan si ibu ya. Itu takdir Allah. Kita tuh cuma tugasnya berdoa minta kemudahan dan keselamatan itu aja sih. Alhamdulillah…

Segitu dulu ya ceritanya. InsyaAllah nanti ada postingan lain lagi ya…

Wassalam

Vivi Nafisah

One thought on “Kehamilan Anak ke 2 Berjarak 9 Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s