Menjadi Ibu Tak Kenal Lelah (Prinsip Pengasuhan Enlightening Parenting)

Menjadi Ibu Tak Kenal Lelah

Ibu adalah orang terhebat yang ada di dalam hidup kita. Ibu tak kenal lelah menyayangi dan mencintai anak-anaknya.

Baru sampai disitu saya membacakan tulisan “Aku Sayang Ibu” yang ada di halaman akhir Majalah Bobo (terbit 3 Desember 2015), Humaidah sudah memberikan komentar yang luar biasa menyentuh.

“Mi, kok itu dibilang Ibu tak kenal lelah? Kok Umi lelah kalau Indah ajak main?”

Sampai saat saya menulis ini pun, kalau saya ingat wajah dan caranya bertanya saat itu, mata saya berkaca-kaca. Ya, saya merasa bersalah karena seringkali menolak ajakan bermainnya dengan alasan lelah.

Saya ingat, siang hari seminggu yang lalu (15 Desember), saya sedang ngobrol bersama Humaidah dan Abanya lalu tiba-tiba saya ketiduran. Sepanjang tidur saya menyadari Humaidah memijat punggung saya dengan lotion, menciumi pipi saya dengan lembut dan berkata-kata sayang, lalu menyelimuti saya. Ketika terbangun saya lihat Humaidah memakai mukena dan ia bilang “Umi, udah bangun?”.

“Umi ketiduran ya, Ndah? Tadi kamu pijitin Umi? Selimutin Umi? Ciumin Umi?”, tanya saya yang masih terkantuk-kantuk. “Iya, Umi udah seger kan? Udah bisa main kan?”, tanyanya bersemangat. “Iya dong!”, jawab saya.

Setelah saya tanya-tanya kenapa ia melakukan semua itu kepada saya? Jawabannya lagi-lagi membuat saya malu. “Supaya Umi segar dan semangat main sama Indah, bisa main sampai malem”.

Kalau dipikir-pikir kenapa ya saya begitu? Ya pastinya karena saya udah kecapekan urus rumah, masak, bekerja, dan lainnya. Jadi, semua itu pekerjaan utama saya? Bagaimana dengan Humaidah? Menemaninya bermain, menghabiskan waktu berkualitas bersamanya hanya menjadi selingan atau urusan belakangan yang tidak lebih penting dari urusan duniawi yang saya lakukan setiap hari?

Beberapa kali Humaidah juga menyebutkan kalimat-kalimat sindiran kepada saya, misalnya:

“Umi, mestinya kita punya robot ya, supaya bisa kerjain semua kerjaan Umi dan Umi main aja sama Indah, santai”

“Mi, mestinya Aba aja yang kerjain semuanya, masak, cuci, jadi Umi main aja sama Indah”

Atau ketika sedang bermain pura-pura dan dia menjadi seorang ibu, dia bilang kalau dia punya banyak pembantu dan dia hanya bermain bersama anak di rumah. Hmmm…

Seminggu terakhir ini saya berusaha memperbaiki semuanya terutama dalam memfokuskan diri menghilangkan “lelah” dan selalu bermain bersama Humaidah. Saya pun semakin semangat dan terbimbing oleh buku Enlightening Parenting-nya mba Okina Fitriani.

Tulisan mba Okina ini benar-benar menampar saya bolak balik.

Terkadang anak hanya mendapatkan sisa-sisa tenaga kita, orangtuanya setelah sibuk seharian bekerja. Ataukah peran sebagai orang tua  hanya dianggap sebagai kegiatan rutin ketika kita berada di rumah?

Ya, walaupun saya dan suami bekerja di rumah, bukan berarti saya dan suami sempurna menyiptakan waktu berkualitas bersama Humaidah. Menurut saya, justru menjadi lebih sulit karena secara fisik kami ada tapi tidak dirasakan oleh anak.

Anak adalah tamu istimewa yang kita undang untuk hadir dalam kehidupan kita atas kehendak dan persetujuan Tuhan.

Ada pertanyaan yang menohok dalam buku ini, apakah sudah sungguh-sungguh selaras antara pernyataan kita “bahwa anak adalah bagian dari sosok penting dalam kehidupan kita” dengan perbuatan kita sebenarnya?

Menurut mba Okina, kehadiran anak sebagai tamu istimewa yang kehadirannya menjadi sebuah assignment dari Tuhan, maka diperlukan upaya istimewa pula untuk melaksanakan tugas ini. Sehingga kelak ketika kita menghadap-Nya kita dapat mempertanggungjawabkan apakah kita teah berusaha sebaik mungkin atau tidak. Dan tamu istimewa inilah yang kelak bisa menjadi penolong kita di pengadilan-Nya, mengaliri kita dengan amal tak terputus, bahkan bisa menghadiahi kita sebuah mahkota di surga seperti yang telah dijanjikan-Nya.

Kesungguhan tercermin dari seberapa besar daya upaya kita menyempurnakan ikhtiar, bukan sekadar seberapa sering kita memikirkannya.

Jadi, apa langkah utama yang dapat kita lakukan untuk menyempurnakan usaha sebagai orang tua yang baik, sebagai orang tua yang tak kenal lelah? Saya akan coba rangkum penjelasan tentang Prinsip Pengasuhan dari mba Okina dalam Enlightening Parenting.

Prinsip Pengasuhan

  1. Menjaga Potensi Baik

Kita dilahirkan dengan fitrah, yaitu suci dan berpotensi baik. Pintu utama potensi baik adalah percaya kepada Tuhan. Kepercayaan atau iman memiliki berbagai tingkatan, melalui iman inilah akan terbuka sifat dan prilaku yang diperintahkan Tuhan, serta tertutupnya sifat dan prilaku yang dilarang Tuhan.

Bermula dari pintu ini, fokuskan pendidikan anak (Fokus Pengasuhan) pada 3 hal penting, yaitu:

  • Bersyukur
  • Bertumbuh menjadi lebih baik

Pemahaman bahwa hari ini harus lebih baik daripada kemarin dan besok lebih baik daripada hari ini.

  • Kebermanfaatan

Inilah posisi tertinggi dari hasil pengasuhan dan pendidikan yang berfokus pada penjagaan potensi baik. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia dan alam semesta.

Ketiga hal diatas dilakukan secara bertahap, hingga terwujud pribadi-pribadi tangguh yang berkolaborasi menjadi gemilang.

Lalu apa yang perlu dilakukan untuk menjaga potensi baik ini? Ada 3 pilar dasar, yaitu:

  • Menjadi teladan

Memberikan contoh prilaku yang dikehendaki Tuhan agar bisa ditiru oleh anak.

  • Mengingatkan

Mengingatkan anak untuk tetap berpegang pada jalan yang dikehendaki Tuhan dengan cara mengenal, mencintai, dan mematuhi Tuhan.

  • Memperbaiki

Ketika anak melangkah di alur yang keliru, dengan segera bimbinglah untuk kembali ke jalan yang lurus.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari tulang punggung mereka dan Dia mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”. Supaya di hari kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya kami lalai dari ini”. (QS. Al-A’raf: 172)

Pengasuhan dimulai sejak mencari pasangan hidup, bahkan lebih jauh lagi sejak usia ketika manusia bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri. Bagaimana jika terlambat? Seperti konsekuensi keterlambatan lainnya. Perlu KEMAUAN untuk berusaha LEBIH keras dan lebih banyak agar tiba TEPAT pada waktunya.

  1. Kasih Sayang

Penelitian Martin Teicher (2014), associate professor bidang psikiatri di Hardvard Medical School, mengenai system saraf pada bayi dan anak-anak membuktikan bahwa dalam otak bayi terdapaat jutaan neuron yang belum tersambung. Suara keras serta perlakuan kasar dapat menyebabkan kerusakan yang setara dengan anak yang mendapat siksaan fisik dan pelecehan seksual.

Jadi, kelembutan dan kasih sayang lah yang menjadi dasar penanaman dan pembenahan akhlak anak (Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Tarbiyatul Aulad Fil Islam).

Berikut ini adalah beberapa ayat hadis yang mengajarkan keutamaan kelembutan:

  • Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai (QS. Luqman: 19)
  • Hendaklah kamu bersikap lembut, kasih sayang dan hindarilah bersikap keras dan keji. (HR. Bukhari)
  • Sesungguhnya Rasulullah saw. Berkata: “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allam memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya”. (HR. Bukhari, diriwayatkan oleh Aisyah)
  • Orang yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan yang paling ramah kepada keluarganya (HR. Ahmad)
  1. Sabar

Mendidik tidak mendadak. Sabar bukan sekadar menahan amarah, sabar juga berarti tidak tergesa-gesa dalam proses mendidik anak. Ketergesa-gesaan membuat orang tua sering, sengaja atau tidak, memaksakan kehendaknya pada anak.

Melalui kasih sayang dan kesabaran, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang jiwanya penuh cinta sehingga mudah untuk menyayangi. Menyayangi dirinya, sesama, makhluk ciptaan Tuhan, dan yang terpenting adalah mencintai Tuhannya.

  1. Konsisten dan Kongruen

Konsisten berarti teguh dan focus pada tujuan, sedangkan kongruen bermakna selaras dan sebangun. Jadi, konsisten dan kongruen berarti orangtua harus berpegang teguh pada tujuan utama untuk menjaga potensi baik anak dengan cara menjadi teladan, senantiasa mengingatkan serta memperbaiki.

Misalnya ketika kita meminta anak untuk bersikap santun, maka tidaklah kongruen jika kita suka berteriak ketika menyuruh anak (jleb banget!!)

Sedangkan konsisten bukan berarti kaku dan menggunakan cara yang itu-itu saja, tetapi juga kreatif menggunakan berbagai cara untuk mencapai suatu tujuan.

Banyak orangtua ingin anaknya sempurna, sementara dirinya lupa berkaca.

Aduuh… bener kan ketampar bolak-balik? Padahal ini baru sedikiiit banget dari isi bukunya yang luar biasa kereen dan menyentuh. Rasanya benar-benar merasa banyak salah selama ini… dan mau segera insyaf!!

Semoga Allah berikan selalu kekuatan untuk saya dan suami menjalani prinsip pengasuhan ini. Memperbaiki diri dan terus memperbaiki diri, baik menjadi orangtua maupun menjadi anak yang berbakti bagi orang tua kami yang telah mendidik kami dengan sebaik-baiknya….Aaamiin…

Semoga bermanfaat ya! Selamat Hari Ibu!

Vivi Nafisah

Advertisements

6 thoughts on “Menjadi Ibu Tak Kenal Lelah (Prinsip Pengasuhan Enlightening Parenting)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s