Punya Teman Khayalan, Normalkah?

teman khayalan

Kehadiran “teman” Humaidah saya sadari sejak ia masih bayi. Saya lupa tepatnya umur berapa bulan dia sering menghadap ke jendela dan tertawa. Sepertinya ini hal yang wajar dan dialami banyak anak. Teman khayalan. Teman imajinasi atau imaginary friends. Mungkin itu istilah yang  biasa disebut kebanyakan orang. Saya menulis ini bukan untuk bercerita horor atau sereman ya…

Saya hanya ingin mendokumentasikan cerita ini dan mau tahu apa sih teman khayalan dan bagaimana kita menyikapinya?

Sebelumnya, saya cerita dulu ya, ketika Humaidah berusia 2 menjelang 3 tahun, ia mulai suka bermain imajinasi dengan boneka-bonekanya. Saat itu saya masih tinggal di rumah mertua. Di kamar kami, yang juga tempat Humaidah bermain, saat saya sedang menemaninya tiba-tiba dia bilang bahwa baru saja ia bertemu dengan seorang “teman”. Namanya Zam-zam, kecil, wajahnya baret-baret karena alergi. Humaidah bertanya pada zam-zam, siapa Tuhanmu? Tapi zam-zam tidak mau menjawab. Sampai disitu ceritanya, saya ajak Humaidah keluar kamar, tapi dia tidak mau. Humaidah tetap melanjutkan aktivitas bermainnya saat itu. Saya keluar dan cerita sama mama mertua (parno nih emaknya), lalu Humaidah memanggil saya, ia keluar kamar dan bilang kalau Zam-zam sudah mau menjawab dan bicara siapa Tuhannya. Humaidah yang mengajarkan katanya.

Hari berlalu saya tidak terlalu menghiraukan tentang teman Humaidah dirumah, hanya menanggapi dan mendengar cerita tersebut sampai ia puas bercerita. Sampai suatu hari ia menyebutkan satu nama teman barunya. Endang. Dimana Humaidah bertemu Endang? Endang itu adalah seorang penari yang ia temui saat kondangan di Hotel tempo hari (kami menginap di hotel tersebut). Hihi…. Makin seru ya ceritanya. Yihaaa…

Humaidah mengingat nama teman-temannya dengan baik. Ada Kopene yang berasal dari Padang Pasir, ada Ekang yang kuat, suka memeluk Humaidah dan bisa mengangkat Humaidah katanya, dan beberapa yang ia sebutkan lagi tapi saya lupa karena ceritanya pun sambil lalu.

Sampai tiba saatnya kami pindah ke rumah kontrakan ini, Maret 2015. Saya sedang beberes di dapur dan Humaidah bermain bersama boneka-bonekanya. Saya mendengar ia memanggil-manggil Kakak Mia. Selesai beberes saya tanya Humaidah main apa? Dia bilang main sama Kakak Mia. Sepanjang hari ia terus menyebut dan bercerita tentang Kakak Mia itu. Cantik. Pernah ia temui di lantai 2 saat kami melihat-lihat rumah ini (sebelum pindah). Sejak pindah Humaidah tidak pernah saya ajak ke lantai atas, karena memang tidak perlu. Lantai atas hanya sebuah kamar yang saya jadikan gudang, ada kamar mandi, dan ruang untuk mesin cuci juga menjemur. Jadi, ya Humaidah ke lantai atas cuma pas kita lihat rumah ini aja sebelum kontrak.

Sebelum menempati rumah ini, kami mengadakan pengajian keluarga dan mengundang seorang Habib. Habib itu naik ke lantai atas dan ketika turun bilang ke suami saya, Jangan bawa anak ente ke atas ya. Saya belum cerita ke siapa pun tentang Kakak Mia itu, suami pun tidak tahu tentang Kakak Mia yang pernah Humaidah temui di lantai atas.

Ohya, Humaidah juga pernah bilang kalau teman-teman yang di rumah jidahnya dulu sudah tidak ada di rumah ini, tidak ikut katanya dan ganti dengan yang Kakak Mia itu. Nyambung sih, apa disambung-sambungin? Hihi. Santai aja ya bacanya.

Beberapa hari kemudian kami bertemu lagi dengan Habib tersebut di rumah mertua. Humaidah yang biasanya ogah kalau diajak ngobrol sama laki-laki dewasa, ini dia ngobrol asyik. Humaidah dibacakan doa, diusap mata dan punggungnya. Mungkin didoakan supaya pandangannya terjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Selepas itu sudah tidak ada lagi cerita tentang temannya, tidak pernah lagi menyebut nama teman-temannya.

Saya pernah update status FB tentang teman Humaidah ini, biasanya komentarnya adalah untuk sering-sering dingajiin rumahnya, selain itu ada juga yg komentar tentang “anak indigo”.

Alhamdulillah, insyaAllah kami tidak putus membaca ratib dan bacaan Quran. Tentang teman Humaidah ini, insyaAllah tidak ada hubungannya dengan itu.

Menurut BRM (Belajar Ruqyah Mandiri) Kajian IHQ, anak indigo yang bisa melihat penampakan, perilakunya cenderung hiperaktif atau sebaliknya pendiam, anak tersebut terkena gangguan jin atau dalam tubuhnya ada jin, sejak kecil atau bahkan sejak dalam janin. Jadi anak indigo bukanlah anak yang memiliki kelebihan (seperti yang dikatakan banyak orang). Anak ini harus segera ditangani dengan cara di-ruqyah, jika tidak makan akan berkelanjutan dan mengarah kepada syirik. Naudzubillah min dzalik.

Lanjut ke cerita Humaidah ya, beberapa bulan sampai sebulan belakangan Humaidah mulai lagi. Setiap ngomong apapun selalu diawali dengan kata temanku. Kemarin malam ketika saya membacakan cerita Nabi, dia tanya, “sekarang Nabi-nabi kemana Mi? Katanya suka dateng ke rumah-rumah ya Mi?”. Saya lalu teringat pernyataan bahwa Nabi Muhammad akan hadir pada tempat-tempat dimana Kitab Maulid dibacakan. Tapi saya belum pernah cerita pada Humaidah. Abanya pun tidak. Lalu saya iyakan dan jelaskan pertanyaan Humaidah dan kembali tanya, kamu kata siapa Humaidah?. Ada yang tau jawabnya? Apalagi kalau bukan kata temanku. “Temanmu namanya siapa?”, tanya saya. Ya, Indah ga tau, yang dikenalin sama Mitsi (boneka beruangnya yang besar). Hmmm…. Ayo siapa yang penasaran lanjutannya? InsyaAllah sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk kasus Humaidah setelah saya mendengar penjelasan tentang ini dari sudut pandang agama Islam dan psikologi anak.

Bagaimana sebenarnya teman khayalan dalam pandangan Islam?

Menurut temanku, Afifatun Nisa (ustazah dan hafizah Quran dari LIPIA), secara umum tentang teman khayalan adalah:

  • Jika anak memiliki teman khayalan yang merupakan imajinasinya, hal itu tidak ada kaitannya dengan jin. Dan dalam hal ini, selama tidak ada interaksi dengan jin, maka tidak ada masalah secara syariat.
  • Jika teman khayalan tersebut berupa hasil melihat penampakan makhluk  ghaib (dalam hal ini adalah jin) yang selalu mengikuti anak dan mengajaknya berbicara, maka dalam hal ini sebaiknya perlu penanganan secara syariat dengan meruqyah sang anak dan mengkondisikan keluarga serta rumah untuk dekat dengan Allah dan senantiasa giat menjalankan syariat islam agar jin yang mengganggu dan mengikuti sang anak tidak mengikuti dan mengganggunya lagi. Karena pertemanan dengan bangsa jin atau bahkan minta pertolongannya tidaklah mendatangkan kebaikan sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. Al-jin : 6

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan

Lalu, apa itu teman khayalan dari sudut pandang psikologi dan bagaimana menyikapinya?

Pengertian teman khayalan

Saya sampaikan kisah Humaidah ini kepada teman yang berprofesi sebagai psikolog anak, Nabilah Shahab, M.Psi, Psi, lalu saya menyampaikan beberapa pertanyaan. Psikolog lulusan UI dan pemilik Layanan Psikologi Bileva ini menjelaskan kepada saya bahwa teman khayalan adalah teman yang keberadaannya tidak nyata, hanya ada di dalam pikiran anak. Teman khayalan dapat hadir dalam berbagai bentuk dan kepribadian. Ia bisa berupa sesuatu yang terlihat seperti boneka yang seakan bisa berbicara dan bermain dengan anak. Atau sosok yang tidak tampak, yang karakternya berasal dari tokoh dalam film atau buku cerita, mainan, binatang, atau murni imajinasi anak. Teman khayalan tersebut dapat seakan terus ada bersama anak, bisa juga datang dan pergi. Ia bisa jadi hanya ada di tempat tertentu di bagian rumah, misalnya di dapur. Teman khayalan juga bisa menghilang dalam waktu yang lama tanpa alasan yang jelas.

Normalkah seorang anak memiliki teman khayalan?

Nabilah melanjutkan, orang tua tidak perlu merasa khawatir jika anaknya memiliki teman khayalan. Menurut Marjorie Taylor, seorang profesor dalam bidang psikologi dari University of Oregon, Amerika, keberadaan teman khayalan merupakan sesuatu yang normal dalam tahap perkembangan anak usia pra sekolah hingga usia awal sekolah dasar (sekitar usia 3-7 tahun). Pada masa usia tersebut, anak senang melakukan pretend play, yang menuntut kemampuan kognitif untuk mentransfermasukan objek dan melakukan aksi simbolis.

Teman khayalan akan menghilang dengan sendirinya ketika anak memasuki masa sekolah, karena mereka akan lebih banyak bersosialisasi dengan teman yang nyata dan memiliki kesibukan.

Anak-anak yang memiliki teman khayalan dapat mendeskripsikan seperti apa temannya tersebut, baik secara fisik maupun perilakunya. Beberapa anak bahkan menjelaskan secara detil bahwa ia mendengar atau menyentuh teman khayalannya tersebut. Meskipun demikian, sebagian besar anak dapat membedakan antara kehidupan nyata dan fantasi. Mereka tahu bahwa teman khayalan hanyalah salah satu bentuk bermain pura-pura.

Mengapa seorang anak bisa memiliki teman khayalan?

Menurut Kimberly Eckert, seorang psikolog di Calgary, Kanada, anak-anak seringkali menciptakan teman khayalan untuk dilibatkan dalam permainan imajinatif. Akan tetapi, bisa juga karena mereka merasa bosan atau kesepian. Selain itu, teman khayalan dapat juga merupakan bentuk usaha anak untuk menenangkan dirinya ketika mengalami suatu transisi yang menimbulkan stress, seperti pindah ke rumah atau sekolah baru, kelahiran adik, dll. Hal tersebut merupakan salah satu cara untuk melatih keterampilan sosial anak dalam lingkungan yang baru.

Penelitian yang dilakukan oleh Marjorie Taylor dan koleganya menyatakan bahwa anak pertama, atau anak tunggal memiliki peluang yang lebih besar untuk memiliki teman khayalan. Sementara itu, dari segi gender, ditemukan bahwa lebih banyak anak perempuan dibandingkan anak laki-laki yang memiliki teman khayalan. Anak laki-laki cenderung menciptakan teman khayalan berupa laki-laki juga. Sebaliknya, anak perempuan bisa menciptakan teman khayalan laki-laki ataupun perempuan.

Diindikasikan bahwa anak-anak yang memiliki teman khayalan cenderung lebih kreatif dan lebih mudah bersosialisasi dibandingkan anak-anak yang tidak memiliknya. Meskipun demikian, orang tua tidak perlu khawatir bahwa anaknya tidak kreatif atau lebih susah bersosialisasi jika tidak memiliki teman khayalan. Terdapat banyak permainan lain yang dapat mendorong dan merefleksikan perkembangan kreativitas dan kemampuan sosial anak. Memiliki teman khayalan hanyalah salah satunya.

Apakah manfaat dari keberadan teman khayalan?

Keberadaan teman khayalan ternyata dapat memberikan beberapa manfaat bagi anak maupun orang tua, seperti:

  1. Membantu melatih keterampilan sosial dan emosional anak
  2. Membantu melatih kemampuan verbal anak
  3. Mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas anak
  4. Membantu anak mengatasi perasaan yang kuat, seperti rasa takut dan kemarahan
  5. Memberikan kesempatan pada anak untuk memiliki kehidupan pribadi yang tidak dicampuri oleh orang dewasa
  6. Membantu orang tua untuk mengidentifikasi permasalahan pada anak, misalnya ketika anak mengatakan bahwa teman khayalannya nakal dan sering membuat masalah, kemungkinan hal tersebut merefleksikan bahwa anak terlalu banyak diberi aturan dan hukuman oleh orang tua.

Bilamana keberadan teman khayalan menjadi masalah?

Meskipun adanya teman khayalan merupakan hal yang normal dalam tahap perkembangan anak, tetapi ada kalanya orang tua perlu mewaspadainya apabila terjadi hal-hal berikut:

  1. Anak sering menghindari melakukan suatu kewajiban dengan melimpahkan tanggung jawab dan kesalahan kepada teman khayalannya. Misalnya, ketika anak menumpahkan air di meja dan orang tua memintanya untuk mengelap, anak mengatakan bahwa bukan dirinya yang melakukan, melainkan teman khayalannya yang menumpahkan.
  2. Jika anak berlanjut untuk lebih memilih bermain dengan teman khayalannya daripada berinteraksi dengan lingkungan nyata.
  3. Anak sering menjadikan teman khayalan sebagai pelarian dari kenyataan, seperti dari rasa takut atau marah.

Bagaimana seharusnya sikap orang tua terhadap teman khayalan?

Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat orang tua lakukan ketika anaknya memiliki teman khayalan:

  1. Jangan biarkan anak melimpahkan tanggung jawab dan mengambinghitamkan teman khayalannya. Jika anak sering mengambinghitamkan teman khayalannya, sebaiknya orang tua berfokus untuk memberikan konsekuensi. Misalnya, ketika anak mengatakan bahwa si teman khayalannya yang telah menumpahkan air, ingatkan anak untuk tidak melakukan kesalahan seperti temannya itu. Lalu katakan, Anda akan membantunya untuk membersihkan air yang telah ditumpahkan teman khayalannya.
  2. Hargailah privasi anak. Jika anak ingin relasinya dengan teman khayalannya tidak dicampuri, janganlah mengintervensi. Sebaliknya, jika anak mengajak orang tua untuk serta berinteraksi dengan temannya tersebut, berpartisipasilah secara wajar.
  3. Meskipun orang tua menerima teman khayalan anak, sebaiknya orang tua menghindari menambahkan ide cerita ke dalam imajinasi anak atau berpura-pura bisa melihat dan berbicara dengan teman khayalannya. Hal tersebut agar anak tetap berada di dunia nyata sekaligus memberi kesempatan padanya untuk mengembangkan imajinasi.
  4. Sejalan dengan bertambahnya usia anak, orang tua perlu mendorongnya untuk melakukan kegiatan lain yang lebih menarik dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya, sehingga anak akan lebih tertarik dengan dunia nyatanya. Bantulah anak jika ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dalam lingkungan nyatanya.

Waah lengkap dan jelas yaa penjelasan dari Nabilah. Jadi, yang dialami Humaidah saat ini insyaAllah masih dalam tahap wajar dan merupakan salah satu fase tumbuh kembangnya. Sebagai orang tua saya dan suami berperan untuk terus mendukung dan mendampinginya. Mungkin karena ia masih sendiri (belum punya adik). Atau kami kurang mengajaknya bermain karena walaupun di rumah tetapi sibuk masing-masing, sehingga dia merasa bosan. Yang pasti kami berusaha semaksimal mungkin dan mencoba untuk terus memperbaiki diri.

Semoga anak-anak kita selalu dalam lindungan Allah SWT dari segala keburukan dan gangguan.

Ohya, teman-teman juga bisa berkonsultasi dengan Nabilah di Layanan Psikologi Bileva. Silahkan hubungi kontak yang ada di Fanpage atau websitenya ya…

Semoga bermanfaat

Vivi Nafisah

Advertisements

10 thoughts on “Punya Teman Khayalan, Normalkah?

  1. wahhh, saya baru dengar istilah teman khayalan ini mbak, kalo saya ada diposisi mbak kayaknya saya akan merasa ketakutan (karena saya penakut) 😦
    terimakasih sudah berbagi pengalaman dan tips-tipsnya yah mbak 🙂

    salam kenal 🙂

  2. Sukses bikin saya gelisah Mak, biasanya saya gak parno-an lho. Cuma karena sekarang ada si kecil, adu..du..du gimana gitu ya kalau ngalamin.
    Boleh komen panjang ya Mak: dulu waktu kecil saya juga punya teman khayalan, tapi saya ‘membentuknya’, ada juga yang berupa boneka. Ibu saya sampai khawatir, tapi tiap ditanya saya jawab jujur memang nggak ada siapa2. Nah, tergolong panjang gak nih, 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s