Siapkan Kakak Sambut Adik Tanpa Cemburu

pregnant-mom-with-kidsPertanyaan orang lain tentang kehidupan yang kita jalani memang gak ada habisnya. Sama seperti saya, pertanyaan tentang kapan Humaidah punya adik lagi saya dapat setiap kali bertemu beberapa orang. Kalau ditanya sih, ya sebenarnya saya sudah pengen banget punya bayi lagi. Pengen Humaidah punya adik. Punya temen main dan berbagi hingga dewasa nanti. Sebaliknya, kalau Humaidah yang ditanya, dia gak mau punya adik dan sering kali diiringi dengan tangisan. Dia lihat saya mandangin foto atau video nya sendiri waktu bayi aja cemburunya luar biasa, tidak suka. Malam harinya dia suka mengigau lho! Apalagi kalau saya habis ketemu sama sepupunya yg lebih kecil dari dia. Phuuff…

Nah lho, terus gimana nih kalau ternyata saya hamil lagi? Gimana ya tingkah Humaidah? Apakah dia akan berulah yang bisa membuat saya naik pitam? Hal inilah yang baru saya “dengar” dari obrolan di grup whatsapp beberapa teman yang sedang dan sudah melalui kehamilan kedua pasti “diganyang” oleh si kakak. Apa yang terjadi? Harus bagaimana?

Menurut Devi Raissa, seorang psikolog lulusan Universitas Indonesia yang juga founder Rabbit Hole kepada saya, kejadian dimana si kakak “berulah” ketika ibunya sedang hamil lagi biasa disebut ‘sibling rivalry’. Dimana seorang anak memiliki kecemburuan akan kehadiran adik baru.

Tentu ini adalah hal yang wajar jika itu ada. Justru janggal, jika kecemburuan ini tidak ada. Mengetahui orang tua yang sebelumnya hanya berbagi perhatian dan kasih sayang pada si anak saja, sekarang ia harus membaginya, tentu dapat membuat ia cemburu. Namun yang perlu diwaspadai adalah bagaimanakah kadar kecemburuannya dari segi frekuensi (apakah setiap kali ada adiknya ia selalu sebal, apakah saat membicarakan adik ia selalu menangis, atau hal tersebut hanya terjadi sesekali) dan intensitas (apakah saat ia kesal ia bisa memukul atau melakukan hal-hal yang membahayakan adiknya, atau ia hanya mengutarakannya saja secara verbal). Jika memang hanya sesekali dan intensitasnya pun tidak tinggi dan membahayakan, sekali lagi ini adalah hal yang wajar”, jelas mba Devi.

Hal ini memang tidak dapat dihindari, namun kita sebagai orang tua dapat menyikapinya agar “si kakak” bisa selalu berdamai dengan kehadiran adiknya mulai dari kehamilan ibu sampai adik lahir. Berikut ini adalah tips yang diberikan oleh mba Devi Raissa untuk meminimalisirnya :

Memberi tahu anak bahwa apapun yang terjadi, cinta dan sayang orang tua ke anak tidak berkurang.

Hal ini penting dilakukan sebelum adik lahir. Karena saat adik lahir, adik yang memang masih bayi akan membutuhkan perhatian yang sangat besar dari orang tua. Mau tidak mau, sadar tidak sadar, orang tua memang akan meluangkan waktu lebih banyak dengan adik. Jika hal ini tidak dibahas dari awal, maka anak akan merasa terabai. Bisa jadi ia merasa rasa sayang orang tua padanya berkurang. Akibatnya, ia bisa mencari perhatian orang tua. Misalnya, mendadak ingin dimandikan lagi padahal sudah bisa mandi sendiri, bahkan sampai ke tindakan menyakiti adiknya.

Membuat anak menyadari perasaannya. 

Anak terkadang juga tidak mengetahui apa yang ia rasakan. Ia merasa cemburu, tapi tidak tahu sebenarnya ia merasakan hal tersebut, atau tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, atau malu mengakuinya. Orang tua dapat membantu anak menyadari perasaannya, melalui refleksi. Misalnya seperti mengatakan ‘kakak senang main-main dengan adik, tapi kadang sebel dan merasa adik berisik kalau adik sudah nangis ya’. Hal tersebut dapat membantu anak mengenali perasaannya dan akhirnya dapat memperlihatkan emosi yang sesuai (tidak berlebihan dan tidak kurang) terutama terhadap adiknya.

Bantu anak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Bicarakan tentang kehamilan, namun tidak usah terlalu detail. Cukup dengan bahasa yang dimengerti anak. Membicarakan melalui membaca buku juga merupakan hal ideal. Karena anak dapat melihat secara kongkrit, lewat gambar, misalnya bagaimana tindakan tokoh di dalam buku saat adiknya lahir. Salah satu buku yang saya suka dan pas untuk menjelaskan kelahiran adik adalah : What Baby Needs. Pengarangnya : William Sears, MD, Martha Sears, R. N., & Christie Watts Kelly. Ilustratornya : Renee Andriani.

Bicarakan juga apa yang akan terjadi saat nantinya adik lahir. Misalnya anak tidak diantar ibu dulu sementara, ayah yang akan mengantar ibu. Ibu tidak bisa full menemani anak bermain seperti dulu. Bisa juga membuat waktu bermain spesial bersama anak. Misalnya Ibu bermain di waktu spesial selama 15 menit setiap harinya . Hanya bersama anak saja. Tanpa adanya adik atau orang lain. Sehingga anak tetap tahu bahwa ia dicintai dan disayangi. Waktu spesial ini juga dapat dibuat antara anak dan ayah saja.

Libatkan anak dalam proses yang berhubungan dengan bayi 

Misalnya anak dapat diminta untuk memilih baju yang dipakai adik hari itu atau hal-hal sederhana lainnya. Setelah itu beri pujian pada anak karena menjadi kakak yang baik dan menyayangi adiknya. Hal tersebut dapat mengurangi kecemburuan anak.

Oh ya, lagi pula sebenarnya kecemburuan ini juga merupakan hal yang baik untuk anak berlatih mengatasi masalah / konflik dengan temannya kelak, dan baik juga untuk anak lebih dalam mengenali emosinya. 

Semua dari kita pasti mengalami saat-saat dimana kita berantem sama adik, jeles, kesel, pokoknya ada aja masalahnya, mulai dari hal-hal gak penting sampai hal yang ‘penting banget’. Termasuk saya, kalau mau dibilang masa-masa kecil saya sama adik gak berhenti dari ‘ribut’, lalu apa? Kami tetap saling sayang lho! Sekarang kami lebih saling sangat menyayangi, lebih saling membantu, dan lebih saling peduli. Saya pun mau Humaidah kelak akan begitu sama kakak-adiknya, baik sepupu ataupun kandung. Semoga gak pake acara ‘ribut’ kayak saya dulu, bisa saya yang pusing kalau gitu. Ya, masih tugas kita lah sebagai orang tua untuk membimbing anak-anak kita. Seperti tips-tips dari mba Devi Raissa yang dapat kita terapkan mulai dari sekarang, saya sudah mempraktekkannya beberapa. Saya ingat orang tua saya dulu selalu bilang, tidak ada kebahagiaan melebihi akurnya kakak-beradik dan selalu saling tolong. Mungkin itulah yang akhirnya tertanam dalam diri kami. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah “DOA”, inilah kekuatan terbesar kita sebagai orang tua.

Semoga teman-teman yang sedang dan akan menjalani kehamilan keduanya (dan semoga saya juga) bisa super sabar dan ‘menikmatinya’. Karena mungkin kita akan merindukan masa-masa ini kelak. Sekarang kalau ditanya, Humaidah mau punya adik? Mau, nanti aja kalau udah 5 tahun, 3 ya adiknya.. Ahaay!! Semangat yaa!!

Vivi Nafisah

Advertisements

5 thoughts on “Siapkan Kakak Sambut Adik Tanpa Cemburu

  1. Waaah.. pas banget nih sama masalah aku sekarang. Ditmar sih bilangnya mau punya adik, tapi kalau saya liat atau ngobrol sama anak lain, cemburunya luar biasa.. Jadi mikir-mikir lagi buat punya anak lagi.. Heheheheh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s