Mendampingi Balita Agar Mandiri Tanpa Emosi

put-on-shoes-clipart-shoe-clip-art-boy_tying_shoe

“Umi, aku bisa sendiri kok”, pinta Humaidah saat ingin memakai sepatunya sendiri. Sejak usianya memasuki 3 tahun, Humaidah sudah mulai minta melakukan segalanya sendiri. Ia pun sudah tidak mau diajari ketika saya mengajaknya “bikin-bikin”. Sehingga saya bebaskan ia melakukan apa yang ia inginkan. Apa yang terjadi?

Pada masa ini, perkembangan fisiknya semakin membaik. Ia semakin lincah dan kuat, ia mulai dapat melakukan semuanya sendiri. Misalnya, memakai baju, makan di meja makan, menuang air ke gelas, menggunting kertas, dan lainnya. Sebagai orang tua, kita pasti bangga dengan kemampuannya saat ini. Namun, terkadang anak akan mulai frustasi ketika mengalami kesulitan, ia mulai marah, menangis, bahkan sampai memukul dirinya sendiri. Disinilah emosi anak juga berkembang.

Dalam buku Yuk, Jadi Orang Tua Shalih oleh Ihsan Baihaqi, pada usia batita (bawah tiga tahun), anak-anak mulai mengembangkan kemampuan untuk meniru peristiwa keseharian dalam hidupnya. Anak mengamati sekitarnya dengan rasa ingin tahunya yang besar. Rasa penasaran ini membuatnya memiliki keinginan untuk mandiri yang sangat kuat. Tapi belum didukung oleh perkembangan fisik dan keterampilan yang memadai, sehingga seringkali ia melakukan kesalahan dan terlalu lama melakukannya.

Pada masa ini biasanya kita, sebagai ibu, mulai kehilangan kesabaran dan toleransi akan jalur perkembangan normal. Hal ini dikarenakan kekhawatiran kita akan keselamatan mereka dan harapan agar mereka dapat mengerjakan tugasnya dengan sempurna. Sehingga kita selalu ingin membantunya dan ketika ia menolaknya akan terjadi kesalahpahaman dan berakhir dengan emosi dan bentakan pada anak. Ini pun terjadi pada saya. Berulang kali saya menyadari, berulang kali pula saya melakukannya kembali. Phuuff…

Lalu apa yang harus dilakukan agar semuanya berjalan dengan baik sehingga anak bisa memperoleh kendali diri yang akan mengantarkan mereka ke tahap perkembangan berikutnya?

Semoga hal ini bermanfaat dan menjadi pengingat bagi saya, berikut tips yang saya rangkum dari berbagai sumber:

  1. Ibu adalah guru utama dan pertama, berilah contoh yang baik dan benar padanya. Pada kasus ini, dekati ia dengan penuh kasih sayang. Berikan pelukan dan berbicaralah padanya dengan halus dan tegas.
  2. Berilah kepercayaan kepadanya untuk melakukannya sendiri, kita cukup memperhatikannya diam-diam. Terutama untuk hal-hal yang dinilai akan membahayakannya, misalnya ketika memakai gunting dewasa. Jagalah pandangan kita tanpa anak menyadarinya.
  3. Bantulah ia untuk mengenali emosi dan keinginannya. Ketika anak kesal karena tidak berhasil memasang kancing bajunya, ajak ia menarik nafas dalam-dalam dan katakan padanya,“Umi, tahu, kamu kesal karena kancingnya susah dipasang ya, Nak?”
  4. Lalu, berikan harapan kepadanya dengan mengatakan, “Jangan khawatir, anak seperti kamu memang sedang belajar memakai baju, jika kamu terus berlatih, kamu akan segera pintar memasang kancing bajumu sendiri, Nak”.
  5. Dampingi ia melakukan proses belajar tersebut sampai selesai. Disinilah ketekunannya akan terlatih dan kesabaran kita sangat dibutuhkan.
  6. Berikan pujian ketika ia berhasil melakukannya dengan benar.
  7. Jangan bandingkan anak dengan anak yang lain. Setiap anak itu unik dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Tugas kita lah untuk membimbing dan mengarahkannya.
  8. Letakkan perlengkapan yang ia perlukan di tempat yang mudah dijangkau, lalu ajari untuk mengembalikan pada tempatnya jika ia sudah selesai.
  9. Beri porsi makan dengan potongan lauk yang memudahkan ia memakannya sendiri.
  10. Ketika anak memukul dirinya sendiri, cobalah evaluasi gaya pengasuhan kita di rumah, apakah pernah melakukan di depannya?

Itulah beberapa hal yang dapat saya rangkum dari buku dan artikel yang saya baca. Mungkin ada teman-teman yang dapat menambahkan. Saya pun masih belajar, berusaha, dan selalu berdoa agar bisa terus mendampinginya dengan baik. Semoga kita mampu untuk melayaninya dengan baik di masa emas ini, agar kelak ia semakin terampil mengatasi masalah yang dihadapinya dan dapat menjadi harapan yang dapat kita andalkan. Tetap semangat ya! Semoga bermanfaat!

Vivi Nafisah

Ref:

Yuk, Jadi Orang Tua Shalih (Ihsan Baihaqi)

Panduan Mengenal dan Mengasah Kecerdasan Majemuk Anak (DR.Rose Mini A. P. Mpsi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s