Tindik Pada Anak Perempuan, Perlukah?

“Sakit …. Sakit…. Sakitt”, teriak dan tangis gadis kecil yang dipegangi erat oleh ibunya dan dibalas bentakan “Diam.. Diam!”…

Kenapa saya harus melihat kejadian itu?? Kenapa saya harus melihat seorang balita 3 tahunan menjerit-jerit di Pasar karena alasan yang cukup menyedihkan!

Gambar dari sini

Gambar dari sini

Maaf sebelumnya karena saya menulis ini masih dengan emosi … Tapi, siapa pun (mungkin) juga akan sama emosinya. Emosi bukan hanya kesal dan marah tapi sedih luar biasa. Sedih ketika saya harus membayangkan kembali wajah gadis kecil itu. . Dia berteriak kesakitan kepada ibunya, mengharap ibunya mengasihaninya dan tidak tega melanjutkan “tindik telinga” tetapi malah membalas dengan bentakan… Saya sampai menangis, mau menghampirinya, bukan karena ibu itu membentak anaknya, tapi karena proses ini dilakukan di Pasar! Ya!! Di Pasar, dilakukan oleh seorang pedagang (saya tidak begitu memperhatikan apa yang dijualnya).

Mungkin ini pengalaman pertama saya melihat tukang tindik. Mungkin saya yang terlalu lebay dan was-was. Entahlah. Tapi, setahu saya, ada beberapa syarat dan peraturan yang harus dipatuhi sebelum menindik telinga, apalagi seorang balita! Lalu saya bisa berbuat apa? Saya pun menyesal karena hanya berlalu, balik lagi dan pergi. Usaha saya untuk bertanya terkalahkan oleh rasa takut “si ibu akan marah” atau tersinggung.

Sepanjang jalan saya di Pasar tidak henti ngedumel sama suami saya, tidak lama suami saya menunjukkan anak itu, ibu, dan kakaknya berjalan keluar Pasar. “Tuh Vi, itu anak gak papa kok!”. Tapi… Oh sudahlah, Vi! ini cuma bagian dan kekhawatiran berlebih saya saja rasanya. Dan saya sendiri pun belum pernah mengalami “tindik” kecuali diri saya sendiri waktu bayi. Humaidah sampai sekarang pun belum ditindik. Awalnya mau tindik sekaligus khitan, tetapi karena waktu bayi baru lahir Humaidah suka menarik-narik telinganya sendiri, jadi kami tunda deh, eeh sampai sekarang. Ya sudahlah, terserah anaknya saja nanti. Toh tindik telinga bukan kewajiban agama yang harus segera dilaksanakan seperti khitan (Humaidah khitan pada usia 1 bulanan). Saya pribadi pun punya tindik tapi tidak pakai anting 🙂 Dan menindik telinga bayi perempuan sesungguhnya bertentangan dengan konvensi Unicef – PBB pada hak anak (AyahBunda). Namun nyatanya?

Lalu apa saya yang harus diperhatikan ketika ingin menindik telinga bayi? Seperti yang saya baca dari Detik Health, pastinya dibutuhkan peralatan yang tepat dan steril! Karena jika tidak bisa menyebabkan infeksi, yang menindik juga harus terlatih, karena jika salah bisa beresiko mengeluarkan darah yang terlau banyak. Siapa orang yang paling tepat? Pastinya DOKTER ANAK ATAU TENAGA MEDIS lainnya yang berpengalaman.

Kenapa gadis kecil tadi sampai menjerit kesakitan yang sangat hebat?? Bukankah katanya jika tindik dilakukan dengan benar, tidak akan ada rasa sakit yang berarti dan malah tidak mengeluarkan darah sama sekali.

Minta kepada dokter untuk meresepkan krim mati rasa dengan derivatif lidocaine yang dapat membantu membius telinga. Oleskan krim sampai tebal ke telinga 30 sampai 60 menit sebelum penindikan. Pakar kesehatan juga menyarakan menggunakan es 15 sampai 30 menit sebelum penindikan. Es dapat membantu membuat mati rasa. Namun semua cara itu tidak benar-benar bisa mengurangi rasa sakit. “Ketika putri Anda menindik telinganya, maka dia akan merasakan agak kesakitan,” kata Dr Swanson. Bicaralah dengan anak Anda tentang tindik dengan cara yang sama ketika Anda akan berbicara tentang suntikan di dokter. (Parents Indonesia)

Minta dokter menggunakan jarum steril sekali pakai (disposable sterilized needle). Dan minta pula saran dokter untuk penggunaan obat peredam nyeri , misalnya infant acetaminophen. (Ayah Bunda)

Tentang kejadian tadi, saya tidak tahu prosedur apa yang dilaksanakan agar anak tidak terlalu kesakitan?

Dan kapan sebaiknya bayi perempuan ditindik? Dulu di RS tempat Humaidah lahir, maksimal bisa tindik disana itu umur 2 bulan, tapi ada juga yang menyebutkan bahwa sebaiknya orangtua menunggu hingga si bayi berusia minimal 3 bulan (detikhealth) atau 6 bulan (parentsindonesia.com) karena pada usia tersebut sistem kekebalan tubuh bayi sudah mulai bisa menangani infeksi yang timbul. Tambahan dari AyahBunda, bayi harus sudah diimunisasi Difteria-Tetanus-Pertusiss (DTaP) yang melindunginya dari tetanus –yang dapat terjadi bila jarum tindik tindak steril sempurna.

Apa yang dilakukan setelah ditindik? Sebaiknya pastikan bayi tidak memegang-megang telinga dan pastikan tidak timbul kemerahan atau nyeri. Ini dia yang membuat saya memutuskan (sampai lupa tepatnya) belum menindik telinga Humaidah. Apalagi urusan memilih anting-antingnya, saya sendiri termasuk yang alergi pada beberapa jenis logam (kecuali emas …ahay!). Nah, menurut artikel di Parents Indonesia, anting stainless steel adalah pilihan terbaik karena tidak mengandung nikel atau bahan yang mungkin menyebabkan alergi. Selain stainless steel, pilihan paling aman adalah platinum, titanium, dan emas 14 karat. Untuk memastikannya cobalah gosokkan logam atau emas tersebut di daerah punggung, jika terjadi ruam ada kemungkinan anak mengalami reaksi alergi. Tips tambahan dari Ayah Bunda, pakaikan anting selama 6 minggu pertama dulu, lalu lepaskan. Ganti dengan anting lain –Anda perlu sedia cadangan–  untuk mengamati adanya kemungkinan alergi atau ruam. Bersihkan kulit sekitar cuping telinga dengan air dan sabun lembut, atau seka dengan alkohol. Selalu cuci tangan Anda sebelum menyentuh telinga si kecil.

Phuuf… Maaf yaa jadi kebanyakan cuap-cuap, semoga anak tadi dijaga Allah, tidak akan terjadi apapun. Saya tidak menyalahkan siapapun … Saya pun orang tua yang jauh dari sempurna … Tapi, bisakah kita memberi masukan ini kepada Dinas Kesehatan? Setidaknya pastikan mereka (penjual jasa tindik) melakukan penindikan sesuai prosedur, atau kalau bisa tolaklah customer anak-anak, karena mereka punya HAK, hak untuk mendapatkan perlakuan yang sudah pasti tidak akan merugikan mereka atau bahkan hak tidak ditindik apalagi harus merasakan kesakitan luar biasa!

Wallahu’alam bishowab

Vivi Nafisah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s