Perkembangan Kognitif Anak oleh Psikolog Anna Surti Ariani

Alhamdulillah bisa dapat pembahasan ini dari kultwitnya psikolog Anna Surti Ariani (follow @AnnaSurtiNina). Saya rangkum disini supaya saya lebih gampang ketika mau baca2 lagi. Terima Kasih mba Anna, kultwit2nya bermanfaat untuk ibu baru seperti saya 🙂

Mau tau kenapa anak gak ngomong ktk ditelpon? Kenapa anak takut kl ditinggal? Kenapa main cilukba penting? Cek kultwit #kognitif yuk. Mau tau kenapa anak marah kalau air minumnya dipindah dari botol besar ke gelas, pdhl isinya sama aja? Cek kultwit #kognitif yuk. Mau tau kenapa anak kudu dibilangin berulang2 kali dan tetep keliatan gak ngerti2? Cek kultwit #kognitif yuk.

Kali ini saya mau kultwit tentang perkembangan kognitif bisa disebut sebagai kecerdasan), dari teorinya bapak Jean Piaget. Jean Piaget hanya satu dari sekian banyak ahli psikologi. Kali ini yg dibahas adalah pandangan dia aja ya. Jean Piaget (1896-1980) adlh seorang psikolog Swiss yang membuat teorinya lewat observasi thd anak2nya. Piaget menemukan bahwa tiap tambah umur, kecerdasan kognitif anak berkembang scr berbeda.

Teorinya: cognitive-developmental approach

Oh ya, walaupun ini adalah ‘teori’, tapi beneran terjadi lho. Aplikasi pemahamannya udah teruji bngt. Teori itu kan gunanya untuk lebih memahami, untuk memprediksi apa yg akan terjadi. Sy akan tambahkan penanganannya. Teorinya sendiri panjang lebar tinggi luas dan dalam luar biasa. Saya mencoba cerita sesederhana mungkin.

Secara umum Piaget membagi perkembangan kognitif menjadi 4 periode:

1)      Tahap Sensorimotor (0-2 thn).

2)      Tahap Preoperational (2-7 thn)

3)      Tahap Concrete Operation (7-11 thn).

4)      Tahap Formal Operation (11 thn – dewasa). Umur2 yg disebut itu kira2, bukan mutlak

Yang kita bahas kali ini hanya sampai tahap preoperational ya. Itu aja akan puanjang bngt.

1.      Tahap Sensorimotor (0-2 thn).

Bayi mcoba memahami dunianya lewat indera/sensori & gerakannya, spt mengisap, menggenggam Tahap Sensorimotor sebetulnya terdiri dari 6 tahap kecil, kita bahas secara umum aja biar gak bingung.

  • Subtahap A) Simple reflexes (0-1 bln), hanya gunakan refleks utk belajar pahami lingkungan.
  • Subtahap B) Primary circular reaction (1-4 bln), mulai bertujuan, mis sengaja berulang2 masukkan tangan ke mulut krn suka
  • Subtahap C) Secondary circular reaction (4-8 bln), seperti tahap sebelumnya, bertujuan & berulang, tp libatkan benda lain. Beda subtahap B & C. Kl B, hanya libatkan tubuhnya saja. Kl C, libatkan benda lain, mis lempar bonekanya.
  • Subtahap D) Coordination of secondary schemes (8-12 bln), tujuan sdh lebih jelas, bukan sekadar mengulang perilaku. Contoh, anak suka menekan tuts tertentu dari mainannya, bukan tuts lain, karena suka mendengar lagu favoritnya.
  • Subtahap E) Tertiary circular reaction (12-18 bln), anak jadi ilmuwan, karena eksplorasi sisi baru dari dunianya. Contoh, anak nemu bahwa tombol flush di toilet bs keluarkan air, maka dia lakukan berulang sampai rusak, hehe.
  • Subtahap F) Mental Representasion/Combination (18-24 bln), sdh bisa perkirakan apa yg akan terjadi, bdsrkn pengalamannya. Contoh, anak pernah punya kotak puzzle 3 dimensi. Ktk dia punya baru, dia coba main seperti yg pernah dialaminya.

Nah, sekarang, kenapa kok bayi yg udah kenal ibu / pengasuhnya, kl ditinggal bentar nangis keras ketakutan? Ini karena ‘object permanence’ mereka belum terbentuk sempurna. Makhluk apa itu? Object permanence adlh pemahaman bhw suatu obyek / benda tetap ada / permanen, walaupun tidak kelihatan. Ternyata bayi belum paham bhw kalau ibunya tidak terlihat, sebetulnya ibunya tetap ada. Dikiranya hilang 🙂 Anak baru benar2 paham bhw ibunya terus ada / permanen sekitar subtahap F, alias sktr 18-24 bln. Kata Piaget. Makanya penting bngt, kalau perlu agak berjauhan sama bayi, teruslah bersuara, spy dia tahu pengasuhnya ada. Tetap bersuara itu akan sangat menenangkan dirinya, yg belum paham bhw pengasuhnya tidak hilang. Yg disebut pengasuh di sini bisa ibu, bapak, nenek, kakek, mbak, nanny, tetangga, dll. Semua yg asuh anak. Inilah pentingnya main cilukba / sembunyikan barang. Bs bantu anak paham bhw yg tidak kelihatan itu msh ada.

Kenapa anak, sejak bayi, sudah mulai bisa meniru? Kata Piaget, karena ada kemampuan ‘deferred imitation’. Deferred imitation = kemampuan utk niru suatu perilaku yg sudah pernah diamati sebelumnya, ada jeda waktu. Misalnya kemarin anak lihat anak lain dadah2 ke mamanya, hari ini / besok mungkin anak tiru dadah2 ke mama. Ini buktikan bhw daya ingat & daya amat anak berkembang bagus. Jadi ortu, hati2 berperilaku ya.

Tadi kita bahas tahap besar pertama, Sensorimotor. Sekarang kita bahas yg kedua,

2.       Preoperational (2-7 thn)

Sebetulnya Preoperational terdiri dari 2 subtahap, 2-4 thn & 4-7 thn, tp sy bahas scr general aja ya. Salah 1 yg paling unik di tahap ini =

A. CENTRATION, hanya fokus pada 1 aspek, tidak bisa pahami aspek lain sekaligus Arti? Ktk anak pahami aspek ‘panjang’, dia belum bisa sekaligus pahami aspek ‘lebar’ / ‘dalam’. Contoh menyusul. Centration ini yg mengakibatkan anak mengalami beberapa keunikan pola pikir di tahap Preoperational (2-7 thn).

 Ada beberapa keunikan pd tahap Preoperational.

1) Symbol.

2) Conservation.

3) Egocentrism.

4) Animism.

5) Classification

5 keunikan tsb terjadi karena Centration. Berikut ini ayo kita bahas satu per satu

  • SYMBOL

Pd tahap 2, Preoperational, anak mulai belajar berpikir, gunakan simbol, tp masih tak sistematis & tak logis. Simbol maksudnya apa? Bisa gambar, bisa kata2, tapi bukan bendanya sendiri. Kata Piaget, sebelum 2 thn, anak paham suatu benda karena ada bendanya, mis utk paham es krim mesti lihat / pegang es krim. Tapi stlh 2 thn, anak bisa bayangkan es krim, tanpa harus lihat es krimnya sendiri, tp bisa dgn lihat gambar es krim. Gambar es krim bukan es krim sendiri kan? Jika gambar diicip, rasanya bukan es krim kan? Gambar es krim kita sebut ‘simbol’. Anak baru paham simbol dari benda nyata, masih belum betul2 paham yg tak kelihatan, mis ‘takut’, ‘sayang’, dll. Inilah sebabnya kenapa kalau bicara sama anak, mesti kelihatan / terasa apa yg dibicarakan itu. Ini juga sebabnya kenapa anak belum paham kalau dinasehati / disuruh membayangkan. Kalau ada ortu yg bingung kenapa udah dinasehati berulangkali gak ngerti2 juga anaknya, skrg tahu sebabnya kan

Penting: Nasehat harus hadir dlm bentuk yg lebih kongkrit / terlihat / terasa, bukan cuma terdengar.

Nasehat yg tidak kongkrit hanya akan diabaikan anak, karena anak belum paham. Jangan salahkan anak. Menasehati anak, tentunya boleh aja, tp jangan terlalu berharap dia paham & nurut gara2 nasehat ortu. Spy mau nurut, anak mesti paham efek perilakunya kepada dirinya. Bisa cek http://chirpstory.com/li/106881. Cek juga teknik2 disiplin di favorit yg dilakukan dgn penuh kasih sayang + pendekatan kongkrit yg mudah dipahami anak (@AnnaSurtiNina)

  •  CONSERVATION

Tepatnya, kurang memahami konservasi, lack the ability to understand conservation. Konservasi adlh kemampuan utk pahami bahwa jumlah suatu material tetap sama walaupun penampilannya beda. konservasiContoh, main lilin malam dibentuk bola, ketika dibentuk sosis, anak mengira lilinnya jadi lebih banyak

Contoh, 2 baris kelereng jumlah sama, ktk jarak antar kelereng brs bwh diperlebar, anak kira lbh banyak.

kelerengContoh, ketika minumnya dipindah dari botol ke gelas, dia nangis krn mengira minumnya berkurang. minum botolPd fase ini, anak kelihatan gak mau berubah dr kebiasaannya, padahal karena belum paham bhw itu sama aja sebetulnya. Justru kalau anak diperkenalkan pd berbagai perubahan, dia bisa belajar lebih banyak! Jangan khawatir! Tunjukkan aja proses perubahannya secara berulang sehingga anak lebih ngerti. Kl belum ngerti2 juga, pahami saja dirinya 🙂 Gara2 kurang paham perubahan, anak juga tidak paham ketika ditanya, “Gimana kalau….”, belum bisa memprediksi. Lagi2 kalau menasehati anak, sulit bngt untuk minta dia perkirakan apa yg akan terjadi, maka kasi tau dgn contoh kongkrit.

  • EGOCENTRISM

Ketidakmampuan kognitif untuk pahami sudut pandang yg berbeda dari dirinya, bukan egois. Kalau egois itu kan sikap tidak mau peduli, walaupun mampu peduli. Egocentrism memang belum mampu peduli. Contoh, anak akan menggambar ‘gunung yg dilihat boneka’ sbg ‘gunung yg dilihat anak’.  gunungAnak mengira bahwa boneka melihat posisi gunung sama persis dengan dirinya, tidak paham sudut pandang lain. Yg sering ditanya ortu, ‘Kenapa anak sy kalau diajak ngomong lewat telpon cuma ngangguk2? Dia marah? Nolak ngomong?’ Padahal yg terjadi: anak tdk paham bhw ortunya di ujung telpon tidak bisa melihat anggukannya. Kadang ortu suka minta anak ‘bayangkan apa yg dialami teman kamu’. Anak 2-7 thn ini masih amat kesulitan utk pahami itu.Makanya kita mesti cari tahu apa yg betul2 dilihat / dirasakan anak, utk lebih pahami sudut pandangnya

  • ANIMISM

Kecenderungan anak utk memahami benda2 tak hidup punya ‘kualitas kehidupan’. Animism ini ketidakmampuan kognitif lho, cuma istilah, gak sama dengan kepercayaan thd benda2 mati spt di suku2 tertentu. Contohnya, anak mungkin mengira bahwa hujan terjadi karena ‘matahari menangis’, seakan matahari = manusia yg bisa nangis. Anak belum paham bedanya benda hidup dan tak hidup. Buat dia, yg bisa bergerak itu hidup. . Karena animism, anak jadi sangat menghayati fabel atau dongeng2 lain. Ketika bermain dengan mainannya (yg benda mati), anak juga meyakini bahwa mainannya betul2 punya pikiran & perasaan. Maka dari itu ‘bermain’ adalah kegiatan yg penting banget buat anak, karena itulah cara anak berpikir.

  • Lack the capacity for CLASSIFICATION,

Maksudnya anak2 kesulitan utk menentukan kelompok. Contoh, ketika anak diberi 10 bunga kuning sama 4 bunga merah. Ditanya, mana yg lebih banyak: bunga kuning atau bunga? Anak mungkin jawab ‘bunga kuning’. Anak tidak paham bahwa bunga kuning adalah juga bunga. Anak tidak paham bhw satu benda bisa termasuk kelompok yg satu, sekaligus termasuk kelompok lain. Inilah kenapa walaupun ortu udah kasi tau, di situasi lain anak terlihat gak paham shg mesti dibilangin lagi. Dan kalau Anda mengeluh kenapa harus kasih tau berulang2, udah tau kan kenapa? Sabar aja 😀

Advertisements

5 thoughts on “Perkembangan Kognitif Anak oleh Psikolog Anna Surti Ariani

  1. mak Vivi, artikelnya bermanfaat, thanks yah ^^
    oke..sekarang saya lumayan ngerti kenapa anak balita kalo dibilangin suka ngeyel (ga ngerti2)..padahal kemampuan mereka untuk mengerti memang blm maksimal ya..

  2. Terkadang pengaruh pemahaman orang tua juga mbak. Kadang lebih milih simpel yang dapat dimengerti anak daripada diberi tahu yang sebenarnya. Sampai gedhe teman saya mengira bapaknya “lungo” (pergi cari uang) padahal bapaknya meninggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s